Selasa, 16 Oktober 2018

Mahasiswa Dalam Masyarakat Konsumerisme

Masyarakat kita mengalami sebuah perubahan massif dalam perkembangan teknologi dan sosial. Hal ini dapat kita lihat dengan kebaruan teknologi yang lebih efisien dan efektif. Perubahan ini dikatakan massif karena cepatnya waktu pengembangan satu jenis teknologi.

Misalnya tidak diperlukan waktu puluhan tahun untuk mengembangkan processor Intel Core i5 ke Intel Core i-7. Untuk mengimbangi hal tersebut dibutuhkan piranti keras yang sesuai dengan processor yang baru. Sehingga kemajuan komputer pun tak terbendung. Perkembangan komputer ini pun menuntut berkembangnya internet yang lebih cepat dan sebagainya. Artinya satu perubahan pun selalu menekan perubahan yang lain dan terus begitu seterusnya.

Perkembangan teknologi yang massif berdampak pada percepatan segala bentuk kegiatan sosial masyarakat. Untuk bertemu dengan seseorang pun tidak perlu repot-repot untuk menemuinya. Dulu untuk bertemu seseorang di luar negeri dibutuhkan biaya yang besar dan perjalanan yang panjang. Sekarang cukup isi handphone dengan kuota yang cukup, kita bisa melihat dan bercakap dengan orang tersebut


Menurut Jean Baudrillard, seorang filsuf kontemporer asal Perancis, kita sedang berada dalam kenyataan luar biasa di mana kita hidup di tengah kelimpaharuan yang dibentuk oleh melimpahnya objek, jasa, barang-barang material yang membentuk sejenis mutasi fundamental dalam ekologi kemanusiaan. Keberlimpahan objek yang tak terbendung ini menciptakan sejenis lingkungan manusia yang sama sekali baru. Banyak sekali informasi dan barang-barang yang selalu melintas di hadapan kita, baik dalam bentuk iklan di sisi jalan maupun iklan yang ada di gadget.

Iklan-iklan pada dasarnya merupakan salah satu mekanisme dari kapitalisme untuk memaksimalkan akumulasinya. Sekarang iklan-iklan dibuat semenarik mungkin agar produk yang ditawarkan bisa laku terjual. Masyarakat pun dipaksa untuk terus menerus mengkonsumsi citraan-citraan yang ditampilkan lewat iklan tersebut, dan itu terjadi setiap waktu.

Salah satu ciri kebudayaan kontemporer kita adalah bahwa realitas kebudayaan yang disarati oleh gemerlapan citraan yang datang silih berganti dengan kecepatan tinggi. Sebagaimana gejala obesitas atau kegemukan yang melanda masyarakat kontemporer, kita pun kini berada dalam semacam obesitas informasi dan citraan yang mengelilingi kita dari segala penjuru. Dampak dari keadaan sosio-kultural semacam tersebut adalah konsumerisme.

Konsumerisme adalah manipulasi tingkah laku para konsumen melalui berbagai aspek komunikasi pemasaran. Manipulasi ini dilakukan oleh pemasaran yang sedemikian rupa menarik, sehingga konsumen pun semacam terhipnotis untuk terus mengkonsumsi apa yang dipasarkan.

Konsumsi tidak lagi sekedar berkaitan dengan nilai guna untuk memenuhi kebutuhan manusia. Konsumsi menjadi sebuah ekspresi posisi sosial dan identitas kultural seseorang dalam masyarakat. Jadi yang dikonsumsi bukan hanya komoditas yang dipasarkan, tetapi juga makna sosial yang ada dalam komoditas tersebut.

Kita sekarang hidup di tengah masyarakat konsumer macam itu. Setiap bentuk interaksi sosial ditentukan oleh konsumsi. Identitas pun ditentukan oleh konsumsi. Mahasiswa dianggap keren apabila sesudah pulang kuliah nongkrong di kafe mahal, dan dianggap biasa saja apabila nongkrong di warkop. Dalam berpakaian dianggap keren apabila memakai pakaian branded yang terkenal, namun jika memakai pakaian non-branded atau branded yang tidak terkenal, maka dianggap biasa saja. Semuanya didasarkan pada konsumsi komoditas yang dianggap high level.

Gaya hidup seperti itu disebabkan oleh pemasaran atau iklan. Iklan menjadi tak terpisahkan dari gaya hidup dan menjadi perumus dari gaya hidup itu sendiri. Iklan mengkonstruksikan masyarakat konsumer menjadi kelompok gaya hidup. Ruang sosial yang dibangun oleh masyarakat konsumeristik diisi kombinasi antara media dan citra.

Ruang konsumsi dicirikan oleh pengombinasian elemen-elemen gaya hidup dengan cara yang baru, yang di dalamnya disatukan berbagai kegiatan waktu senggang, kesenangan, permainan, hiburan dan konsumsi. Komoditas yang dibentuk oleh iklan ini pada dasarnya bersifat ilusif.

Iklan—yang merupakan sebentuk tontonan yang mengiringi sebuah produk—menawarkan citra-citra sebagai acuan nilai dan moral. Padahal citra-citra tersebut adalah rangkaian ilusi yang disuntikan pada komoditi dalam rangka mengendalikan konsumer. Dengan demikian, konsumer menjadi konsumer ilusi, yaitu konsumer membeli ilusi ketimbang barang, yang mengonsumsi relasi sosial (status, prestise) ketimbang fungsi produk.

Dengan kondisi sosio-kultural semacam itu, masyarakat seolah-olah terjebak dalam lautan tanda yang terus menerus memaksakan konsumsi. Yang menjadi orientasi adalah apa yang dicitrakan dan diiklankan, nilai prestise lebih utama daripada nilai guna, lebih memilih produk dengan harga mahal daripada yang murah meskipun kualitasnya sama, dan lain sebagainya. Demikianlah realitas yang kita hidupi saat ini, yang dihasrati adalah yang dangkal daripada yang dalam.

Lalu bagaimana dengan nasib mahasiswa? Apakah mahasiswa juga termasuk masyarakat konsumer yang demikian? Lantas kalau begitu mahasiswa tidak akan melakukan perubahan apapun? Menjadi konsumer ilusi dan lupa akan fungsinya sebagai agen perubahan?

Tak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa menjadi harapan di tengah budaya konsumerisme semacam itu. Namun tak bisa kita tolak bahwa mahasiswa masihlah terinklusi dalam struktur yang demikian. Ironisnya jika kita melihat perilaku dari mahasiswa saat ini, mereka sangat terpengaruh oleh budaya konsumerisme dan terjebak di dalamnya. Saat ini kebanyakan mahasiswa lebih suka untuk menonton film ke bioskop daripada diskusi dan penelitian. 

Perubahan sosial yang dilakukan oleh mahasiswa pun seolah-olah tidak mungkin. Karena tekanan idealisme mereka terlalu kecil melawan tekanan konsumerisme yang begitu masif dan lebih menggoda. Paling banter perubahan dan gerakan yang dilakukan mahasiswa bersifat populer. Dalam artian gerakan mereka hanya mengikuti tren dan eksistensi belaka, bukan gerakan yang kritis.

Namun, itu bukan berarti semua mahasiswa yang ada di dunia ini terjebak dalam jeratan konsumerisme, ada juga yang bersikap kritis. Filsafat merupakan salah satu senjata kritisisme dari mahasiswa. Dengan filsafat mahasiswa bisa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di balik budaya konsumerisme ini. Filsafat bisa memberikan analisa dan refleksi terhadap gejala tersebut.